Skip to main content

Kuis Biografi "Muhammad Natsir" SMAN 41 Thn 2017


Kuis Biografi "Muhammad Natsir" SMAN 41 Thn 2017
Nama : Siti Farikha
Kelas : X MIPA 3
Pelajaran : Bahasa Indonesia
Judul Buku : Muhammad Natsir
Tema : Seorang Yang Tidak Kenal Putus Asa
Nama Pengarang : Abdul Rosyad Shiddiq
Tahun Penerbit : Edisi, Revisi
Tebal Buku : 32 Halaman
Kelebihan Buku : Buku mempunyai gambar sehingga mudah di pahami, tulisan pada
Terang(Tidak rusak/kabur), dan bahasanya mudah dipahami.
Kekurangan Buku : Kertasnya sudah menguning dan kurang tebal.

Sinopsis
Muhammad Natsir, lahir pada tanggal 17 juli 1908 di kampung jembatan berukir, Alahan Panjang, kabupaten solok, sumatra barat. Ia adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara yang merupakan pasangan dari suami istri odris sutan saripodo dan khadijah. Muhammad Natsir berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Namun tekun beribadah, ayahnya hanya seorang pegawai kecil yang tugasnya sering berpindah pindah dari daerah satu ke daerah yang lainnya. Semula, ayahnya bekerja sebagai juru tulis kontrolir di alahan panjang, kemudian pindah ke bonjol sebagai asisten demang, kemudian ke bekeru, sulawesi selatan sebagai seorang sipir.
Menjelang masa pensiun, ayahnya kembali lagi ke kampung halamannya di alahan panjang. Jadi, semenjak kescil Mohammad Natsir selalu mengikuti keluarganya ke mana pun itu ayahnya di tugaskan kecuali ke bekeru, sulawesi sulatan. Ia tidak ikut di karenakan perjalanan yang sangat jaut, ia lebih memilih tinggal bersama mamaknya (paman dari ibu) untuk merantau ke padang melanjutkan pendidikan sekolah HIS, sebuah sekolah dasar milik pemerintah penjajahan belanda. Si mamak sudah sangat berusaha mendaftarkan Muhammad Natsir ke sekolah HIS, namun tidak di terima dengan alasan karena Muhammad Natsir berasal dari keluarga yang kurang mampu. Akhirya, Mohamad Natsir harus puas dengan dengan hanya menjadi Siswa HIS Adabiyah padang yang muridnya terdiri dari anak anak negeri.
Sejak kecil Muhammad Natsir sudah harus hidup prihatin bersama mamaknya, seorang buruh harian yang bekerja sebagai buruh kopi yang terletak tidak jauh dari pantai. Upah yang di terimanya pun tidak seberapa, hanya beberapa puluh sen perhari. Itupun uangnya ia gunakan sebagian besar untuk makan dengan menu yang sangta sederhana bersama ponakannya & sisanya ia kirimkan untuk keluarganya yang berada di maninjau.
Pagi pagi sekali, Mohammad Natsir sudah harus bangun dan melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama mamaknya.  Setelah itu, ia ia menanak nasi, membuat kopi dan sarapan. Setelah sarapan lalu ia mencuci piring, menimba air dan mengerjakan tugas tugas ringan yang lain. Sore hari, sepulang sekolah ia pergi ke pesisir untuk mencari kayu bakar. Semua itu ia lakukan dengan senang hati, tanpa di suruh bahkan dipaksa oleh mamaknya.
Lima bulan tinggal di padang, Mohammad Natsir di jemput oleh ayahnya yang tugasnya sudah di pindahkan di kampung halamannya yaitu di alahan panjang. Ia lalu di masukan di HIS solok yang belum lama ini baru di buka. Di solok, ia dititipkan kepada Haji Musa, di keluarga Haji Musa Muhammad Nastir di perlakukan seperti keluarga dekatnya sendiri. Apalagi dengn anaknya Haji Musa, Ubaidillah. Mereka seperti adik kaka, pagi hari ia pergi bersama ke HIS solok, Sore hari sekolah di Madrasah Diniyah dan di lanjutkan pada malam hari yaitu dengan mengaji di Surau.
Sebagai anak yang tahu berterima kasih, Muhammad Natsir atas kesadarannya sendiri ikut membantu pekerjaan” ringan, seperti menyapu halaman, mengisi air ke bak mandi, dan membelah kayu bakar. Ia sama sekali tidak merasa keberatan, karena pekerjaan semua itu sudah ia lakukan ketika dahulu tinggal bersama mamaknya di padang.
Ketika duduk d kelas III Diniyah, ia di percaya untuk menjadi seorang guru yang pada saat itu kekurangan guru, ia mendapatkan bayaran 10 sen perbulan. Bukan main senang hatinya pada saat menerima rezeki dari hasil jerih payahnya sendiri untuk pertama kalinya. Inilah yang membuatnya yakin bahwa ia dapat hidup mandiri. Maka ia pun lebih giat belajar dan demi mencapai cita citanya. Suatu hari, kakanya yang berada di padang datang padanya lalu ia di ajak tinggal bersama nya lalu ia di masukan di HIS padang yang tentunya lebih maju daripada di HIS solok, ajakan ini pun ia terimanya. Karena HIS padang ialah dahulu sekolah nya yang menolak dirinya di karenakan Mohamad Natsir berasal dari keluarga yang kurang mampu. Dan kini, ia di terima di kelas 5 berkat kecerdasannya yang luar biasa.
Pada saat duduk di bangku terakhir HIS, Mohammad Natsir sudah memikirkan cita citanya yaitu dengan masuk ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu di MULO. Tetapi ia ragu, mengingat kedua orang tuanya yang pasti tidak akan mampu membiayainya apalagi ayahnya yang sudah pensiun. Namun untung, ada seorang guru yang memberikan keterangan bahwa ia dapat masuk ke sekolah MULO dengan beasiswa tetapi dengan syarat nilai rapotnya harus tinggi. Dan dari sinilah yang membuat semangatnya bangkit kembali dan ketekunanya dalam belajar. Berkat pertolongan dari Allah SWT, dan kedua orang tuanya, serta kegigihan Muhammad Natsir dalam belajar. Akhirnya ia dapat di terima di Sekolah Mulo dengan beasiswa.
Semangat belajar Mohamaad Nastir memanglah sangat tinggi. Begitu ia tamat dari MULO, sebenarnya ia dapat langsung bekerja di kantor pemerintah dengan gaji yang cukup besar, sehingga ia dapat membantu menghidupi keluarganya. Tetapi, ternyata ia lebih memilih melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi di pulau Jawa. Menyadari bahwa orang tuanya tidak akan mampu membiayai, Mohammad Natsir lalu berusaha untuk memperoleh beasiswa dari AMS jurusan sastra barat Bandung. Untuk itu, ia harus lebih giat lebih giat belajar. Dan, karena nilai rapotnya yang cukup tinggi, akhirnya ia dapat d terima di sekolah tersebut.
Bandung memang kota yang ramai, berbagai hiburan dan kesenangan dapat kita temukan dimana saja. Tetapi, tidak untuk Muhammad Natsir,  karena tujuannya jauh jauh datang kesini dan meninggalkan kampung halamannya hanyalah untuk menuntut ilmu dan demi meraih cita citanya di masa depan. Setamat dari AMS Muhammad Natsir lagi lagi belum puas dengan pendidikannya. Ia masih ingin meneruskan pendidikan yang lebih tinggi. Dan, ketika mendengar pemerintah membuka kursus untuk menjadi guru selama satu tahunbagi para tamanan AMS dan HBS, ia langsung ikut mendaftarkan diri. Sebab cita citanya dalam waktu dekat saat itu adalah ingin mengurus masalah pendidikannya.
Itulah sekilas perjalanan masa kecil Muhammad Natsir. Meskipun hidup penuh keprihatinan, tetapi tidak membuatnya berputus asa. Dengan semangat dan ketekunannya dalam belajar, akhirnya ia dapat menyelesaikan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Itulah yang kemudian membuatnya menjadi salah seorang pemimpin yang besar di negeri ini.
Muhammad natsir adalah seorang tokoh yang lengkap. Ia cukup menonjol dalam berbagai bidang kehidupan, antara lain :
1.       Aktif di persatuan islam
2.       Aktif di partai islam Indonesia
3.       Ketua serikat pemuda islam (Jong Islamieten Bond)
4.       Menteri peneragan RI
5.       Anggota dewan kabupaten Bandung
6.       Perdana mentri RI pada tahun 1950 – 1951, sebuah kedudukan tertiggi yang pernah ia capai sepanjang hidupnya.

Dalam bidang pendidikan, ia pernah :
1.       Menjadi ketua organisasi sekolah sekolah islam
2.       Mendirikan pendidikan islam (PENDIS) semacam yayasan pendidikan yang meliputi sekolah Frobel(TK), HIS (SD) dan MULO (SLTP)

Mohammad Natsir adalah tokoh yang sangat berwibawa. Walaupun tubuhnya tergolong kecil, penampilannya kelihatan kalem, dan raut wajahnya selalu terlihat berseri-seri. Sesungguhnya, dibalik semua itu tersimpan suatu kewibawaan yang luar biasa. Ia adalah tokoh yang cukup disegani.
Muhammad Natsir adalah pemimpin yang jujur. Ia menjalani hidupnya di atas jalan yang lurus, mengalah demi kebenaran, dan teguh dalam memegang prinsip yang di yakininya. Sebenernya masih banyak lagi pujian yang patut kita berikan kepada Muammad Natsir. Itu semua membuktikan bahwa ia adalah orang yang besar yang haruus di jadikan teladan.
Dan kini, Muhammad Natsir telah tiada. Ia wafat pada hari ahad, 7 Februari 1993 di bawah siraman air hujan yang cukup deras, ribuan pelayat yang mewakili jutaan umat islam hadir menyaksikan pemakaman jenazahnya di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah abang, Jakarta Pusat. Semoga arwahnya senantiasa berada di sisi Allah SWT dan mendapatkan balasan terbaik di sisinya.
 Mau tau yang selengkapnya ? lihat aja yuk di link https://m.youtube.com/watch?v=7YTHZ4lkxj4 Terima Kasih

Comments

Popular posts from this blog

Marawis

Marawis  adalah salah satu jenis "band tepuk" dengan  perkusi  sebagai  alat musik  utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian  Timur Tengah  dan  Betawi , dan memiliki unsur ke agamaan  yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Sejarah Marawis Kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari  Yaman . Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan  hajir ( gendang  besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm,  dumbuk  atau (jimbe) (sejenis gendang yang berbentuk seperti  dandang , memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong  kayu  bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan  ...

Kelas 12 IPA 1 Kelompok 3 Ujian Praktik Teater 'Usaha Membawa Nikmat' SMAN 41 Thn 2018

Ujian Praktik Teater 'Usaha Membawa Nikmat' SMAN 41 Thn 2018 TIM PRODUKSI: 1.      ADITYA ANASTA   (PELATIH DIMAS, PENATA MUSIK) 2.      ALIF MUZAKKI        (PETINJU, MUSUH DIMAS) 3.      ALFRIDA NS                        (MC, PENATA PANGGUNG) 4.      ANNISA PY              (LIZA, PENATA RIAS) 5.      DIMAS AW              (PETINJU) 6.      M. SOLEH AMAL    (WASIT, PENATA PANGGUNG) 7.      NOVAL TAUHID     (PELATIH ALIF) 8.      SAFIRA DL        ...

Kelas 12 IPS 1 Ujian Praktek Teater "Pembenahan Wisma Atlet" SMAN 41 Thn 2018

Kelas 12 IPS 1 Ujian Praktek Teater "Pembenahan Wisma Atlet" SMAN 41 Thn 2018 Ujian Praktek SMAN 41 Jakarta Bahasa Indonesia Tahun Ajaran 2017 / 2018 "Pembenahan Wisma Atlet" Oleh Kelompok 3 1.Dicky Andika Nugraha : Wakil Presiden 2. Dwiki Agung Priambodo : Menteri PUPR 3. Desita Dwi Suciyani : Dirjen PUPR dan Direktur Persero 4. Salsabila Mutiara Puspa : Kontraktor PT. Persero 1 5. Friska Steviana : Kontraktor PT. Persero 2 6. Gustiana Putri Maharani : Atlet Volly 7. Nur Ismi Novyanti : Atlet Timnas Volly Indonesia 8. Ega Lusyana : Reporter 9. Syifaus Sakinah : Kameramen Guru Penilai : Muhammad Jarkasih, S.Pd., M.Par. Siwi Marwati, S.Pd. Dra. Nova Linda, M.Pd. Adegan 1 Setelah mendapatkan kabar bahwa Indonsia menjadi salah satu kandidat sebagai Tuan Rumah Asian Games 2018. Pada tanggal 25 Juli 2014, OCA menunjuk Jakarta sebagai Tuan Rumah Asian Games XVIII dengan Palembang. Oleh sebab ...