Nama : Tasya Novanti
Kelas : XMIA2
Bidang Studi : Bahasa Indonesia
Karena Dia Semangatku
Pada malam itu saat aku sedang banyak hal
bersama mama. Tiba-tiba mama terlihat murung dan entah kenapa dia tiba-tiba
seperti itu, apa yang ada dipikirannya entah aku tidak tahu. Lalu langsung aku
bertanya kepadanya. Kenapa dia tiba-tiba terlihat seperti orang yang memikiran
sesuatu hal yang berat. Dia memberitahukan bahwa rumah ini akan digusur. Aku
sangat tidak percaya bagaimana bisa rumah ini akan digusur? Kata mama ternyata
rumah ini akan digusur karena untuk pelebaran jalan. Orang yang beerja dikelurahan
sudah datang untuk membagikan surat edaran untuk rapat penggusuran. Rumah yang
terkena gusuran hanya enam rumah dengan enam kepala keluarga,termasuk
keluargaku.
Lambat laun aku kira rumah ini
diberikan waktu beberapa bulan utnuk menetap disini namun hanya beberapa minggu
ternyata surat peringatan sudah mulai turun bahkan surat peringatan kedua sudah
turun. Jika surat peringatan kedua sudah turun penggusuran rumah ini sudah
didepan mata. Aku dan keluargaku dan kelima kepala
keluarga yang lainnya diperintahkan untuk segera bersiap-siap untuk mengemas
barang-barang karena rumah harus sesegera mungkin dikosongkan hanya diberi
waktu 5 hari untuk bersiap-siap. Aku dan keluargaku segera mengemas
barang-barang yang akan dipindahkan. Kemudian aku bertanya kepada mama “ma ...
barang-barang ini akan dipindahkan kemana? Dan kita akan kemana? “. Kata mama
“tenang mama kan punya rumah dimustika yang mama jadikan kontrakan. Kebetulan
enam kamar itu ada tiga kamar yang kosong kita bisa tempatkan dulu sementara.”
Waktu demi waktu pada pukul 3 sore setibanya
aku pulang sekolah dan melewati rumahku ternyata rumah telah hancur hanya
tersisa kenangan-kenangan saat 12tahun menempatinya.aku tidak ingin melihat itu
lebih lama, aku langsung pulang kerumah yang sementara aku tempati itu. Disitu
aku terdiam dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Kemudian
sekitar tiga jam penggusuran itu mama pulang kerumah mama datang kepada ku dan
langsung menanyakan kondisiku.”kamu kenapa?” lalu aku langsung menjawab dengan
melontarkan berbagai pertanyaan.”entahlah, papa dimana, ma? Bagaimana
kelangsungan hidup kita? Apakah akan terus tetap tinggal disini? Aku tidak
nyaman tinggal disini , ma. Aku lebih nyaman tinggal didaerah rumah kita yang
sudah bertahun-tahun ditempati itu, kapan aku melihat mama masak dengan masakan
yang cukup banyak itu? Dan melihat mama menjualkan masakan mama dengan
senangnya mendapat uang untuk mencukupi kehidupan sehari-hari? Apakah semua
hanya tergantuk kepada papa? Bukankah mama yang pernah berkata aku tidak boleh
tergantung pada suami pada saat aku mempunyai keluarga? Tidak perduli seberapa
besar pekerjaan seorang suami? Saat kita masih mampu untuk bekerja dan tidak
hanya berdiam diri dirumah. Lalu mama terlihat sedih mendengar pertanyaan aku
tadi dan dengan perlahan ia menghela napasnya kemudian menjawab dengan
perlahan-lahan menjawab pertanyaan ku. “papa sedang mengurusi puing-puing rumah
yang masih bisa digunakan. Kita tidak akan menetap disini kita akan pindah
disebrang rumah gusuran itu yang tidak akan terjadi penggusuran yang kedua
kalinya. Nak, tidak perlu mmemikirkan kelangsungan hidup kita karena apapun
yang terjadi kita akan baik-baik saja selama kita tidak lepas dari doa dan
usaha yang keras diiringi oleh niat. Karena bagaimanapun kehidupan allah yang
mengatur sedangkan manusia yang berusaha. Kamu tidak perlu merasa sedih mama
memiliki beberapa tabungan untuk membangunrumah baru disebrang rumah kita yang
digusur itu untuk mama jadikan tempat makan lagi seperti sedia kala karena mama
ingin melihat kamu senang ketika mama memasak masakan yang banyak dan enak-enak
itu. Jangan terlalu dipikirkan semoga ini jadi awal kehidupan yang baru yang
membuat kita lebih bersyukur kedepannya. Kemudian mendengar kata-kata aku
sangat tenang sekali melihat perkataan mama tadi. Dia selalu mampu memberikan
aku ketenangan dan mengembalikan semangat yang hilamg. Tidak hanya masalah ini
bahkan setiap masalah lainnya.
Comments
Post a Comment