Nama : Richard Mozart Maclaren
Kelas : X IIS 1
Pelajaran : Bahasa Indonesia
Guru Bidang Studi : Muhammad Jarkasih S.Pd, M.Par.
Judul : Proses Untuk Menjadi Juara
Kenalin nama gua Richard Mozart Maclaren. Gua mempunyai 2 orang kakak pria dan wanita dan sangat – sangat bersyukur masih mempunyai orang tua. Pada awalnya, proses untuk menjadi juara itu tidak gampang tapi disaat kita semua bekerja keras pastinya juga kita akan mendapat hasil yang memuaskan. Apapun masalah yang ada di hadapan kita harus kita hadapi dengan pantang mundur, karena ketika kita berhenti dan menolak untuk terus maju karena adanya masalah yang menghadang, kita tidak akan pernah bisa untuk menjadi apa yang kita inginkan. Seperti pengalaman yang akan gua ceritakan ini.
Pada waktu itu, gua masih menduduki sekolah SMP Swasta. Gua mempunyai hobi bermain basket dan dari situ gua mengikuti kegiatan ekstrakulikuler basket di sekolah gue. Pertama kali menjalani kegiatan latihan pada hari selasa, gua senang banget bisa bertemu banyak teman baru disana apalagi yang sama – sama mempunyai hobi bermain basket. Pelatih basket gue atau sekolah gua sebelum kita memulai latihan bilang, “Basket bukan hanya dimainkan dengan tangan, tetapi juga memakai otak. Ada syarat untuk bisa stay di kegiatan basket ini, Nilai – nilai kalian tidak boleh jelek atau turun. Kalau ada saya akan melarang anak itu untuk mengikuti kegiatan bola basket sampai ia mendapat nilai yang bagus”. Dan dari situ kami semua kaget, sekolah SMP gua terkenal jago karena yang melatih aja Coach dari NBL.
Setiap hari selasa dan kamis, gua selalu pergi untuk latihan basket. Waktu pertama latihan basket disana, banyak dari kita yang muntah – muntah karena sitem pelatihan dari coach sangat keras. Dia lebih melatih fisik dulu agar kita bisa tahan main lama-lama di lapangan. Dan dari situ, coach melihat perkembangan semua anak dari latihan tersebut. Banyak dari kita gabisa melakukan dribble atau shoot, tapi karena latihan yang giat kami semua bisa setara dengan kakak kelas kami dulu disaat kami menduduki kelas 2. Kami bisa membawa Piala dan kami sangat senang. Meskipun anggota basket tidak sebanyak yang dulu waktu kelas 1 karena bnyk yang tidak suka dengan system pelatihan coach, tapi karena kami terus berlatih kami membuahkan hasil yang besar juga. Ada juga yang keluar dari basket karena tidak terpilih dalam tim dan juga dalam Tim INTI.
Saat gue menduduki Kelas 3 di SMP, banyak sekali adek – adek kelas yang mengikuti kegiatan Ekstrakulikuler basket. Kami menjadi contoh yang baik untuk adek – adek kelas kami seperti kami yang dulu mencontoh kakak kelas kami. Dan yang dulu berhenti dari basket karena tidak kebagian ikut turnamen ada yang join lagi karena dia yakin bakal masuk dalam Tim Inti, dan jika ditotalkan dulu anggota basket kami ada 72 orang. Dan sekolah kami jadi terkenal karena TIM Basket yang sering menjuarai turnamen. Karena kerja keras itulah kita dapat membuahkan hasil yang sangat baik. Jadi jangan mudah menyerah dan “KEEP MOVING FORWARD”. Sekian cerpen dan pengalamn dari gua.
Comments
Post a Comment