Skip to main content

Rahayu Pangesti, Cerpen "PANGERAN HALTE BUSWAY"

Nama : Rahayu Pangesti
Kelas : X IIS 3

PANGERAN HALTE BUSWAY
Masa putih merah telah belalu, ku buka lembaran baru dengan putih biru. Aku sedih, aku bimbang, dan aku resah. Entah apa yang aku rasakan, aku pun tak tahu. Apakah aku harus tersenyum? Karena aku masuk sekolah favorit. Ataukah aku harus bersedih? Karena tidaak ada satupun teman SD-ku yang masuk satu sekolah denganku. Semua yang telah kulalui kini telah menjadi kenangan, kenangan yang tersimpanindah di halte busway.
Hari itu pun datang, hari dimana aku menginjakkan kakiku di lingkungan baru dan mengenakan selembar kain putih biru. Setelah setahun aku menempuh pendidikan di sekolah ini, kini aku naik kelas dan memasuku kelas 8.
“Huuuuft” aku menghela nafas panjsng ketika aku tersadar bahwa pengalaman baru akan datang. Aku duduk di bangku kelas 8-E, bersama temanku sejak kelas 7 yaitu Vanessa. Vanessa anak yang asik diajak mengobrol dan dia hebat dalam menggambar. Setiap pulang sekolah aku selalu pulang bersama Vanessa dengan menggunakan bus Transjakarta, angkutan umum di Jakarta yang dapat mengurangi kemacetan di Jakarta.
Badan lelah ditambah cuaca yang sangat panas membuatku bosan menunggu bus Transjakarta di halte ini. Vanessa pun tidak berbicara sejak tadi membuatku bingung harus berbuat apa. Disaat aku sedang duduk dan termenungdi halte, aku tidak sengaja melihat laki-laki yang menarik perhatianku. Dia tampan dengan mengenakan jas almameter berwarna biru tua dan topi abu-abu. Sepertinya dia seorang mahasiswa. Karena ia mengenakan jas almameter yang biasanya digunakan oleh mahasiswa. Sesekali aku melirik laki-laki itu dan terkadang ia menatap balik padaku. Ugh, entah kenapa rasanya dadaku berdebar dengan kerasnya. Hingga tak terasa aku tersenyum malu-malu. Apa ini yang dinamakan cinta masa remaja? Tetapi orang dewasa mengatakan cinta masa remaja adalah cinta monyet. Ah! Masa bodo!
“Yu!” Vanessa memanggilku.
Aku tersentak kaget, lalu dengan cepat aku menoleh kearahnya.
“ Ya? Ada apa?” balasku.
“ Apa yang kamu lihat? Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya nya padaku dengan curiga.
“ Tidak apa-apa” jawabku sambil tersenyum.
Tak lama kemudian bus Transjakarta datang. Lalu dengan terburu-buru aku naik bersama Vanessa. Hal yang kulihat terakhir kali sebelum pintu bus tertutup adalah laki-laki itu yang masih santai duduk. Mungkin dia naik bus dengan arah yang berbeda denganku.
*****
Dua bulan berlalu sejak kejadian itu, aku masih selalu menatapnya diam-diam di halte busway. Selama dua bulan ini, terkadang aku tidak menjumpai laki-laki itu. Mungkin ia sibuk dengan kuliahnya. Setiap bertemu dengannya aku selalu melirik diam-diam dan senyum-senyum sendiri. Setiap Vanessa menangkap aksiku tersebut, pasti ia akan menatapku dengan aneh dan curiga. Vanessa akan bertanya apakah aku baik-baik saja? Dan selalu kujawab tidah apa-apa. Terkadang aku berkhayal bahwa laki-laki itu adalah seorang pangeran. Pangeran halte hatiku. Karena aku tidak tidak tahu nama laki-laki itu, aku memanggilnya dengan sebutan Pangeran Halte Busway.
Hari itu aku bertemu dengannya di halte busway saat sedang menunggu bus. Laki-laki itu bersama teman-temannya mengobrol dan bercanda. Ugh, melihatnya tertawa bersama teman-temannya membuatku tersenyum sendiri.
“Siapa yang kamu lihat? Kenapa sambil tersenyum begitu?” tanya Vanessa tiba-tiba sambil menatapku sanksi.
“ Tidak ada, aku tidak apa-apa” jawabku dengan cepat.
“ Kamu sedang menyukai seseorang?” tanya Vanessa lagi.
“ Tidak, kalaupun ada pasti aku sudah cerita padamu kan?” aku balik bertanya berusaha terlihat baik-baik saja.
Vanessa mengangguk lalu terdiam dan aku juga ikut terdiam. Aku tidak tahan ingin melihat laki-laki itu lagi. Mendengar suaranya bercanda dengan teman-temannya membuatku berdebar-debar rasanya. Aku menatap laki-laki itu terus dan laki-laki itu balas menatapku balik. Kulemparkan senyum canggungku dan ia membalasnya dengan senyum manis. Langsung kubuang muka menatap ke arah lain. Melihatnya menatap dan tersenyum padaku membuat dadaku bergetar dengan hebatnya dan salah tingkah.
Tak lama kemudian bus Transjarta datang berlawanan arah dari jurusa yang ketuju. Laki-laki itu menaikinya bersama teman-temannya. Aku menatapnya untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi.

*****


Hari demi hari berlalu, aku tidak lagi bertemu dengan laki-laki itu. Kupikir laki-laki itu sibuk kuliah sehingga pasti pulang di petang hari. Dan kupikir lagi mungkin aku tidak akan bertemu dengannya lagi setelah ia balas tersenyum padaku. Itu semua benar kenyataan karena sejak hari itu aku tidak melihat batang hidungnya lagi. Apakah aku harus mencarinya ke belahan dunia lain? Seperti Christopher Columbus yang berlayar dan mengungkapkan bahwa bumi itu bulas. Tentu aku tidak akan seperti itu, itu semua akan kusimpan menjadi kenangan. Kenangan-kenangan itu tidak akan aku lupa bersama dengan kenangan selama masa SMP-ku. Cinta masa putih biru yang akan kusimpan di dalam hatikusehingga siapapun tidak ada yang tahu. Kupikir itu bukan cinta sesungguhnya, itu hanya rasa tertarik kepada lawan jenis saja. Rasa yang dimiliki oleh remaja labil yang baru mengalami masa pubertas. Kini tak ada lagi Pangeran Halte Busway, yang ada hanyalah khayalan anak remaja.

Comments

Popular posts from this blog

Marawis

Marawis  adalah salah satu jenis "band tepuk" dengan  perkusi  sebagai  alat musik  utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian  Timur Tengah  dan  Betawi , dan memiliki unsur ke agamaan  yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Sejarah Marawis Kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari  Yaman . Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan  hajir ( gendang  besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm,  dumbuk  atau (jimbe) (sejenis gendang yang berbentuk seperti  dandang , memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong  kayu  bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan  ...

Kelas 12 IPA 1 Kelompok 3 Ujian Praktik Teater 'Usaha Membawa Nikmat' SMAN 41 Thn 2018

Ujian Praktik Teater 'Usaha Membawa Nikmat' SMAN 41 Thn 2018 TIM PRODUKSI: 1.      ADITYA ANASTA   (PELATIH DIMAS, PENATA MUSIK) 2.      ALIF MUZAKKI        (PETINJU, MUSUH DIMAS) 3.      ALFRIDA NS                        (MC, PENATA PANGGUNG) 4.      ANNISA PY              (LIZA, PENATA RIAS) 5.      DIMAS AW              (PETINJU) 6.      M. SOLEH AMAL    (WASIT, PENATA PANGGUNG) 7.      NOVAL TAUHID     (PELATIH ALIF) 8.      SAFIRA DL        ...

Kelas 12 IPS 1 Ujian Praktek Teater "Pembenahan Wisma Atlet" SMAN 41 Thn 2018

Kelas 12 IPS 1 Ujian Praktek Teater "Pembenahan Wisma Atlet" SMAN 41 Thn 2018 Ujian Praktek SMAN 41 Jakarta Bahasa Indonesia Tahun Ajaran 2017 / 2018 "Pembenahan Wisma Atlet" Oleh Kelompok 3 1.Dicky Andika Nugraha : Wakil Presiden 2. Dwiki Agung Priambodo : Menteri PUPR 3. Desita Dwi Suciyani : Dirjen PUPR dan Direktur Persero 4. Salsabila Mutiara Puspa : Kontraktor PT. Persero 1 5. Friska Steviana : Kontraktor PT. Persero 2 6. Gustiana Putri Maharani : Atlet Volly 7. Nur Ismi Novyanti : Atlet Timnas Volly Indonesia 8. Ega Lusyana : Reporter 9. Syifaus Sakinah : Kameramen Guru Penilai : Muhammad Jarkasih, S.Pd., M.Par. Siwi Marwati, S.Pd. Dra. Nova Linda, M.Pd. Adegan 1 Setelah mendapatkan kabar bahwa Indonsia menjadi salah satu kandidat sebagai Tuan Rumah Asian Games 2018. Pada tanggal 25 Juli 2014, OCA menunjuk Jakarta sebagai Tuan Rumah Asian Games XVIII dengan Palembang. Oleh sebab ...