American Expresso
Nama
: millenia martines
Kelas : X-IIS 3
Pelajaran : Bahasa Indonesia
Guru Bidang Studi : Muhammad Jarkasih S.pd., M.Par.
Pelajaran : Bahasa Indonesia
Guru Bidang Studi : Muhammad Jarkasih S.pd., M.Par.
Judul : American Expresso
Waktu Sekarang
Pernah
ada seseorang datang dan memberitahuku bahwa tidak ada kelinci di bulan, bahwa
dia dan aku adalah makhluk dari planet lain yang tersesat di bumi, bahwa ...
“oi!!!
Ngelamun!” suara itu memecah lamunanku. Suara yang tidak cukup tinggi untuk
soprano, namun tidak bisa mencapai nada rendah untuk dikategorikan alto,
terdengar seperti messo, namun agak alto yang ketika marah menjadi soprano.
Perempuan itu meletakan dua gelas american expresso di hadapanku, es batunya
mencair, membentuk bulir bulir embun. Tunggu, dua gelas expresso ???
“american
expresso ?” aku bertanya heran. Segelas expresso cukup suatu yang mengejutkan
untuk ukuran seorang yang menuangkan tujuh bungkus gula tambahan pada hot
chocolatenya yang sudah teramat manis.
“yup”
ia mengangguk arogan “no sugar” kini ia mengaduk aduk es batu yang mulai
mencair dalam expressonya itu.
“why”
“nothing.
Just wanna know how your love story feel like” ia tertawa renyah.
“trust
me, you can’t handle it” aku mulai menyeruput cold american expresso itu. Seperti
refleksi sebuah cermin, ia pun mulai menyeruput expressonya, expresso pertama
dalam 16 tahun keberadaannya. Expresso
itu, melukisakan garis melengkung ke bawah pada bibirnya. terburu buru ia
menyendokan blueberry chesse cake ku. Aku hanya tertawa melihatnya.
“see
?” aku meledeknya.
“it
was an quiet unique taste but mostly bitter” kini wajahnya mulai kembali
normal.
“perfect.”
“huh
?” kini dua alisnya mengkerut, seperti dua utas tali yang berusaha menyambung
“maksudnya”
“ya
perfect. Tujuan lo minum expresso itu udah kesampaian” aku berusaha
menjelaskan. Tentu saja aku pernah dengar jika kafein bisa membuat daya ingat
orang melemah namun, secepat ini kah. Dia baru saja mengatakannya beberapa
detik lalu.
“oh!”
ia memekik pelan “your love story ?” ia tertawa getir, “it was quiet unique,
but mostly bitter” ia menatap kosong pada suatu sudut di toko pastry ini.
“ya.
Mostly bitter” aku menyeruput lagi minuman itu. Tak begitu pahit. “sekarang
harus gimana ?” gumamku.
“temuin
blueberry chesse cake lo” ia tersenyum, menyuap satu sendok blueberry chesse
cake ke mulutnya. Ya, mungkin yang ku butuhkan hanyalah sesendok blueberry
cheese cake. Aku melirik scrap book di sampingku, namun aku masih di sini,
terlena dalam pahitnya american expresso yang unik dan baru bagiku.
FLASHBACK
“indigo”
bisik luna pada ku. Aku hanya membalasnya dengan tatapan bingung. Terlalu panas
pagi ini untuk memulai percakapan dengan siapa pun. Aku benci hari senin, hari
dimana aku harus berjemur sepanjang pagi, mengenakan atribut lengkap yang
membuat produksi keringatku melonjak 50% lebih banyak dari biasanya. “indigo,
12 MIA 3” luna berbisik lagi. Sepertinya
sudah tertangkap basah aku menatap badan tinggi yang tengah berdiri di sana. Aku
berusaha mengabaikan teman sekelasku ini, memperhatikan upacara bendera dengan
khidmat. Mmmmh.. mungkin juga, tidak. Adalah dia, anak lelaki yang berbadan
tegap di tengah lapangan ini, pemimpin upacara. Kulit coklatnya sangat serasi
membalut tubuh tegap atletis itu.
Indigo.
Aku mengumamkan namanya. Terasa unik saat aku menyebutnya. ‘indigo’
***
Aku
ingat sekali, hari itu rabu siang menjelang sore. Kakak kelas itu terus saja
memaksakan kehendaknya padaku, dia bilang balon untuk sebuah peragaan busana
pahlawan, dan aku bilang terlalu childish, aku memutuskan pergi keluar dari
ruang kelas itu, mencari udara segar, dan sosok itu kembali terlihat di
hadapanku. seperti terhipnotis, aku mencari spot terbaik untuk melihat sosok
itu, Indigo, yang terus saja menangkis bola voli itu dengan lengannya.
Aku
memutuskan untuk menontonnya dari pendopo pinggir lapangan. Ada perasaan aneh
dalam diriku, ayolah, aku sudah pernah merasakan ini, bukan lagi remaja naif
yang bertanya tanya tentang jatuh cinta. Entahlah. Sore itu aku mendoktrinkan
diriku sendiri bahwa aku jatuh cinta, ya, jatuh cinta, bukan sekedar kagum.
Namun jika diriku sekarang bisa kembali ke sore itu, aku akan menampar diriku
yang bodoh itu dan menyuruhnya kembali ke kelas dan melanjutkan berdebat dengan
kakak kelas keras kepala itu. Ya, jika sekarang aku masih bisa memilih, aku
akan dengan senang hati menahan amarah dengan berdebat dengan kakak kelas keras
kepala itu dari pada menahan sakit yang tak ku mengerti yang dimulai sejak sore
bodoh itu. Namun sore itu yang ku lakukan hanya duduk menikmati sore yang
menghangat dan memandangi lengan itu, yang terus menerus menangkis bola voli
yang dilemparkan lawan, memikirkan tentang bagaimana suatu hari jika lengan
yang terus menerus menangkis bola voli itu, akan memelukku erat. Saat itu aku
langsung mengutuki diriku sendiri atas pemikiran gila itu, karena saat itu yang
ku tahu hanyalah namanya Indigo, 12 MIA3.
***
Beberapa
hari berjalan dan berlalu seperti biasa, yang berbeda hanyalah ada dia dalam
detik detik terkahir aku tertidur di malam hari dan detik detik pertama aku
terbangun di pagi hari. Perasaan itu terus saja membumbung hingga melambung.
tak kuat, akhirnya malam itu aku menghubungi Raynald, kakak kelas ku sejak SMP.
Aku menceritakan semuanya tentang indigo. Dan malam itu juga, beberapa jam
setelahnya, aku mengetahui bagaimana rasanya ‘mini heart attack’ itu. Ya.
Bagaikan fairy god mother, setelah aku menceritakan semuanya pada kak Raynald,
Ka Digo langsung menghubungi ku. Belakangan aku tahu bahwa ka Raynaldlah yang memberitahukan
Id line dan membocorkan cerita ku langsung pada ka Digo.
Masih
teringat sangat jelas bagaimana suara basnya menyebut namaku. “hi Tosca” begitu
ucapnya pertama kali. Ucapan yang begitu umum, begitu sederhana, namun itulah
awal dari semuanya. Sebuah sapaan ‘hi Tosca’ itu membawaku pada malam malam
penuh imajinasi tentang kelinci kelinci di bulan, tentang aku dan dia yang
berasal dari sebuah tempat di luar galaksi milky ways ini, tentang salah satu
planet dalam gugusan bima sakti ini. Sebuah ‘hi Tosca’ yang membuat american
expresso terasa begitu pahit dilidahku.
***
Hari
setelah malam ‘hi Tosca’ itu selalu terisi dengan imajinasi imajinasi ku dan
juga imajinasinya yang tak kalah gila. “aku udah terlalu lama terdampar di bumi
yang onar ini” ia mengeluh dari ujung pesawat telefon sana.”ku kira aku
sendiri” ia menambahkan, suara bassnya terdengar makin sendu, “ternyata ada
kamu, yang juga terdampar di bumi yang onar ini. Hahahaha” suaranya kini
berubah ceria. “sudah terlalu lama kamu terdampar di bumi yang onar ini,
bergaul dengan manusia manusia yang naif itu, sehingga kamu jatuh cinta dengan
salah seorang diantarnya” bodoh. Aku terluka dengan ucapanku sendiri. Dan di
ujung sana, kamu hanya berkata “ya” menyetujui ungkapan bodoh yang kuucap
sendiri, seperti memperdalam tusukan belati yang kutancapkan di jantungku oleh
tanganku sendiri. Ya, sebelum aku datang, ia telah bertemu dan jatuh untuk
seorang perempuan berbadan mungil dengan kerudung putih di kepalanya, Airin.
Namun
sebuah kebenaran yang bodoh, malam itu dan malam malam setelah itu aku bersedia
bersembunyi dalam bayangannya, menjadi selir di taman sarinya.
***
Tak
hanya hadir dan mengganggu jadwal tidurku, makhluk yang mengaku berasal dari
luar galaksi milky ways itu juga hadir di awal hari ku, saat malam sudah
terhitung pagi dan beberapa ayam mulai berkok, jarum pendek di jam kamar ku
menunjuk angka 3 dan jarum panjang membentuk sudut 900 sempurna
untuk 60 detik kedepan.
‘aku
mau tidur” suara bass itu terdengar berbisik ngantuk diujung telfon sana
‘aku
mau tidur sambil dipeluk kamu’ aku berbisik manja.
‘yasudah,
kamu tidur disebelah mana ?”
“disebelah
kiri” jawabku. Aku tahu akan dibawa kemana pembicaraan ini. Seperti malam malam
sebelumnya, dia akan berpura pura tidur disampingku dan menghangatkanku .
Kesepian
dan kedinginan serasa tak berarti apabila aku tidur dengannya walau sebatas
ilusi yang hampir nyata . terasa hangat dan tentram pada saat aku bisa
mendengar deru nafasmu di ujung sana dan merasa kau ada disampingku . setiap
malam berlalu aku nyaman akan ketentraman yang kau beri dan bonus-bonus pagi
yang selalu kau berikan yaitu , pelayanan morning call untuk membangunkan ku
mengingatkan tuhan kita memanggil agar kita bersembah kepadanya .
***
Minggu
itu Ia US, menghitung hari menuju UN lalu kelulusanNYA, hari dimana aku takkan
melihatnya sesering aku melihatnya saat saat ini. “perhatiin lingkungan sekolah
baik baik ya hari ini” pesanmu pagi ini sebelum aku berangkat ke sekolah,
tempat dimana aku mengenalmu. Maka pencarian pertama aku perhatikan ruang 8X7 m2
bercat hijau ini, mengederkan pandanganku ketiap tiap sudutnya, dari balik
kacamata minus 1,5 ku, ku temukan origami kupu kupu di ujung jendela dekat
tempat duduk ku. Jam pelajaran terus berganti, dan aku tak bisa lebih sabar lagi
untuk mendengar bel istirahat, agar aku bisa mengamati sekolah ini, menemukan
dia dalam origami kupu kupu lainnnya.
Dan
waktu itu sekitar pukul dua siang dan aku telah menemukan dirinya dalam bentuk
origami kupu kupu yang ia tempelkan di tempat tempat tak terduga, di kaca dekat
toilet, di jendela, di mading, di lemari kelasku, aku tidak peduli jika Ia
meletakan lebih dari lima buah origami kupu kupu di sekitar sekolah. Jika hari
itu aku hanya menemukan satu, aku pun sudah merasa cukup.
“gue
kasihan sama kak airin, tapi gue juga kasihan sama lo” ucap Icha saat aku
berhasil menemukan lima origami kupu kupu mu. Dan hari itu aku sadar, tidak,
aku sudah sadar sejak awal. Yang benar, hari itu aku berhenti membohongi diri
sendiri, dengan bantuan Icha, aku mengatakan sebuah kejujuran pada diriku,
bahwa aku hanyalah variasi dalam dessertnya, tidak bisa menjadi hawa di
jupiternya, melainkan satelit diantara ratusan satelit lainnya
Sesampainya
di rumah, ku letakan kupu kupu origami itu dalam sebuah box agar ia tidak bisa
terbang dan terus menemaniku, jahat memang, namun origami kupu kupu itu seperti
sudah ditakdirkan seperti itu.
***
“kak
aku rasa aku salah” ucapku getir
“iyah
kaka juga” seperti biasa , aku tak perlu lelah menjelaskan sesuatu kepadamu ,
you know me so well .
“kak
aku salah berpijak , aku salah berdiri , nggak seharusya aku disini .
mengganggu hubungan orang lain” kataku sedikit bergetar , menahan tangis yang
kutahan sedari kemarin.
“nggak
, ini salah kakak , apapun yang terjadi semuanya itu salah kakak. Tenang”aku
tahu , kamu tahu aku menahan tangis ini , memberikan ku peluang agar aku
menangis dalam tentram signalnya .
“tenang
tosca , anggap aja kita adalah dua makhluk asing dari luar angkasa yang ke bumi
dan akhirnya saling bertemu , mereka nggak tahu akan kehadiran kita , yang tahu
Cuma kita aku dan kamu , dan kita berusaha saling melindungi.ngerti ?”jelasmu
membuatku tenang , memberikan bunga malam dihari itu sangat damai dan indah
untuk semalam , sampai aku tersadar akan persembunyian kita , aku ingin
manusia-manusia dibumi tahu keberadaan dan hubungan kita. Aku ingin menghapus
ke abu-abuan ini.
***
Langit
malam di sabtu , menemani muda-mudi berpasangan untuk menikmati hawa ke
romantisan mereka tapi tidak untuk aku dan kamu . kita memilih untuk melakukan
rituan umum kita , menggunakan salah satu hasil perkembangan teknologi sebagai
perantara kebersamaan kita . menghabiskan sekali lagi malam yang mungkin indah
denganmu.
“kak
?”aku memanggilmu di tengah diem tentram kita
“ya
, tosca ?”jawabmu dengan suara yang selalu berhasil membuat hatiku terenyuh.
“ingat
? aku pernah bilang ke kakak kalau perasaan itu dibagi jadi 4 tingakatan ?”aku
mempertanyakan ini sambil memantapkan hatiku akan jawaban yang nanti akan kau
berikan dan membantuku menjawab semua dari ke abu-abuan ini.
“iya
, ingat” suara bass yang lembut , berkali-kali lagi selalu membuat ku berhasil
terpesona.
“apa
aja ?”
“tertarik,suka,sayang,cinta”jawab
mu hafal , aku suka sikapmu yang selalu menghargai dan memperhatikan setiap
detail ucapan yang aku berikan kepada mu .
“dalam
4 skala itu , pasti manusia cantik itu ada di nomor 3 kan ?” seperti biasa ,
aku mengajukan pertanyaan bodoh yang akan membuat pisau-pisau tak terlihat
menembus perasaanku.
“ya”
singkat dan datar . dan aku takut
“nah
kalau aku ada di keberapa ? 1 ya ? haha
nggak apa-apa jawab jujur aja”
“nggak
kok” suara mu menjawab memberikan ku sedikit harap
“lalu
?”
“2,8”
“....”
“tosca
?”
“ya
?”
“kenapa
?” tanyamu heran .
“nggak
apa-apa”jawaban yang mungkin paling sering kugunakan jika aku bingung
berhadapan denganmu .
‘2,8’
pun menjadi data terakhir yang akan aku gunakan untuk menarik kesimpulan dan
membuat saran akan hubungan ini . aku bukan seperti matahari yang rela
tenggelam agar sang bulan terbit , aku tidak ingin menjadi bayangan mu di
kegelapan , aku ingin kita bagaikan bumi dan bulan . aku ingin membuat 2,8
mengalahkan 3 tapi bagaimana bisa jika tandingannya adalah putri dan selir .
***
Hari
itu ulang tahunmu yang ke 18 usia bumi dan ke 2038 usia luar bumi. Kamu
memintaku untuk datang namun aku tahu tempat dan tahu diri sehingga hari itu
aku hanya bersembnyi dalam selimutku sepanjang hari. Nekat ku buka instagram ku
ba’da isya dan lihat. Aku menemukannya, meniup lilin ulang tahuhnya yang ke 18
dan lihat siapa yang memegang kuenya, ka Airin, hawa di jupiternya. Dan hari
itu aku makin tidak bisa membohongi diri ku atas keberadaanku dan posisiku, dan
hari itu juga aku temukan jawaban, mengapa setiap malam kamu terus saja
menelfonku hingga fajar terbit di ufuk timur, membuatku merasa seperti seluruh
perhatian dan waktumu tercurah hanya untuku si selir dari taman sari ini, aku
bertanya tanya jika kamu terus menelfonku, bagaimana kamu bisa berkomunikasi
dengan permaisurimu, dan hari itu seperti sovenir dari ulang tahunmu yag ke 18,
aku diberi jawaban oleh foto foto kebersamaan mu dengannya, Ka Airin.
Menghabiskan waktu bersama di tempat yang sama, tidak hanya melalui udara,
pesawat telfon.
Dan
malam itu, aku memutuskan untuk berhenti. Aku tidak ingin menjadi bodoh. Aku
sadar bahwa aku berhak mendapat lebih. Tidak sekedar selir di taman sari. Aku
ingin menjadi ratu bersanding dengannya.
56
panggilan dari mu namun aku menyerah dan berbicara pada mu saat panggilan ke
57,
“huuuuuhh
toscaa” ku dengar nada lega dalam ucapannya. “kenapa ?” tanyanya intens.
“gapapa”
aku berusaha bersikap acuh, menuruti perintah otakku, jika saja hatiku menang
hari itu, mungkin aku sudah dengan bodohnya menangis dan menumpahkan semua
kerinduan yang ku endap endapkan dalam hati, namun aku sangat bersyukur otakku
menang malam itu. “segalanya terjadi karena sebuah alasan” kamu berucap sungguh
sungguh dan aku terus saja menjawab dengan jawaban seadanya. Kamu menagih
penjelasan dan jawaban atas semua yang kulakukan padamu. Dan yang kukatan
“semuanya dalam satu buku setelah ujian nasional” janjiku padamu.
“tosca”
ia menyebut namaku lembut. Aku selalu benci cara dia menyebut namaku, membuatku
merasa begitu berharga dan bodoh diwaktu yang bersamaan.
“tosca”
ia berbisik.
“indigo”
aku berbisik lalu memutus sambungan telfon ku dengannya.
WAKTU SEKARANG
“gue
rasa gue mau pesen hot chocolate aja deh” perempuan yang tidak lain sahabatku
itu mulai beranjak dari kursinya.
“see
? You cant handle it. The bitter of the coffe” aku meledeknya. Aku disini,
menikmati pahitnya american expressoku yang tinggal setengah gelas. Seraya ku
pandangi scarp book itu, ‘semua dalam
satu buku setelah ujian nasional’ post it itu menempel pada cover scrap book
hasil tangku, semua jawaban atas segala sikapku, aku ingin mengakhiri kebodohan
ini. Namun sebagian dari diriku tetap menikmatinya, kepahitan kisah ini,
kebodohan dalam kebahagiannku.
Entahlah,
aku sudah tidak tahan dengan pahitnya expresso ini. Cukup. Yang ku butuhkan
adalah sesendok blueberry cheese cake untuk menghilangkan kepahitan ini.
FINN
Comments
Post a Comment