Nama :
Diah Widyarini
Kelas :
X-IIS3
Pelajaran : B. Indonesia
19 NOVEMBER 2012
Ketika
pulang sekolah aku diberitahu kakakku bahwa ibuku dirawat di rumah sakit. Sebelumnya
aku tahu bahwa kakakku akan membawa ibu ke rumah sakit tapi aku tidak mengira akan
dirawat. Tapi aku tidak diperbolehkan untuk ke rumah sakit dulu karena aku
harus menjaga rumah dan tidak bisa bolos sekolah. Setelah beberapa hari ibuku
dirawat, kami sekeluarga ke rumah sakit setelah aku sudah pulang sekolah.
Saat
sampai, aku melihat ibuku tidak begitu lemas, hanya seperti orang baru bangun
tidur. Di ruangan ibuku dirawat ada empat ranjang dan hanya
2 pasien yang tinggal. Ibuku dan satu wanita muda, ranjangnya berhadapan dengan
ranjang ibuku yang tirainya selalu tertutup. Aku
bersama kakak - kakakku bergantian untuk mencium tangannya, tapi saat salah
satu kakakku memeluknya sehabis cium tangan, aku ikut melakukannya juga. Saat aku memeluknya,
aku mencium bau badan orang sakit, kepalaku berada di perutnya, ada perasaan
lain yang muncul, semacam rasa takut kehilangan, dan itu memicu air mataku
keluar. Apa yang sebenarnya aku pikirkan?Pikirku.
Sampai aku tersadar kedua kakakku
menunggu gilirannya untuk mencium tangan, jadi kulepaskan saja pelukanku dan
berpindah ke ranjang sebelahnya yang tidak disinggahi pasien. Aku terdiam,
menenangkan diriku sendiri, kubiarkan kakakku mengobrol dengan ibu, aku
mengingat – ingat lagi apa yang sedang kupikirkan tadi saat menangis. Ibu hanya sakit, dan agar cepat sembuh ia
harus dirawat.Mengapa aku menangis? Memalukan saja, Pikirku.
Setelah
itu,keadaan berlangsung biasa saja, bercanda, hingga makan siang bersama, lalu
pulang saat sore hari. Mulai dari sekarang aku berusaha untuk tidak bersikap
berlebihan seperti menangis tadi.
Keesokan
harinya setelah pulang sekolah aku diberitahu bahwa aku harus menginap di rumah
sakit untuk menemani ibuku bersama bapakku. Aku tidak mau menginap di sana. Tapi
itu tidak kukatakan. Aku rasa aku cukup menjenguknya saja. Malam ini malam
minggu, aku tidak mau menghabiskan waktuku di rumah sakit. Kata salah satu
kakakku, ibu selalu menanyakan aku dan
ia mau aku menginap di sana. Aku berpikir, ibuku mempunyai empat orang anak
tapi hanya aku yang diinginkan.Kenapa? Apa ia tidak berpikir untuk memberikan
kesempatan anaknya untuk bersenang – senang di rumah, bukan di rumah sakit.
Tapi semakin aku berpikir, pikiranku mengarah ke pikiran negatif. Ini seperti
permintaan seseorang yang harus dilakukan. Takut ini adalah permintaan terakhir
dari seseorang tersebut. Baiklah, aku tahu kini aku berlebihan lagi. Jadi lebih
baik aku bersiap – siap untuk ke rumah sakit.
Saat
di sana, aku sangat merasa bosan. Aku
hanya banyak memakan buah – buahan yang kakakku beli untuk ibuku. Tapi kau
tahu, kan, kalau orang sakit biasanya tidak nafsu makan. Aku merasa kepanasan
karena tidak ada satupun kipas di ruangan ini. Tidak ada hiburan di sini, seperti
TV atau lagu – lagu yang bisa didengar. Aku melihat pasien yang satu kamar
dengan ibuku, ia mempunyai handphone yang bisa untuk menyetel TV. Jujur aku iri
padanya. Mungkin aku takkan kebosanan seperti ini jika aku mempunyainya juga. Ketika
malam aku mencoba tidur di ranjang sebelah ibuku yang kosong tadi. Tapi
percuma, aku tidak bisa tidur.
Tanpa
sadar pagi sudah datang. Di hari minggu ini, kuakui aku sangat bingung, karena
banyak orang yang menjenguk, dan ada beberapa dari mereka yang tidak kukenal. Kakak –kakakku datang saat agak siang, mereka membawa
makanan untuk dimakan bersama, aku lega saat mereka datang, aku jadi punya
teman bicara. Mereka yang banyak bertanya pada ibu, sementara aku banyak makan.
Saat siang mereka pulang. Dan aku berusaha untuk menjaga ibuku lebih maksimal.
Seperti membantunya untuk buang air kecil, atau menyuapinya makan. Tetangga
mulai berdatangan untuk menjenguk, aku bingung, karena mereka datang saat ibu
sedang tidur. Salah satu tetangga, yang kukenal, menyuruhku untuk memakaikan
alat bantu bernapasnya ibuku. Aku ingin melakukannya. Tapi dengan setengah sadar, ia menjauhkan alat itu dan
berkata, “Kalau pakai itu terus, mau kapan sembuhnya?” lalu ia tertidur lagi.
Setelah mereka pergi. Kakak – kakakku datang. Seperti
biasa, mereka banyak mengajak ngobrol ibu. Saat adzan magrib usai, ada suara
burung gagak kencang sekali dan berulang – ulang
tepat di luar kamar ini. Kami semua
terdiam. Saling menatap. Aku memandang wajah kakakpertamaku, terlihat
memikirkan sesuatu yang buruk dan berusaha untuk mengenyahkannya. Lalu tak lama
kemudian mereka pulang. Sebelum mereka pulang aku meminta pesan agar mereka
membawa bajuku untuk ganti besok. Karena aku sudah dua hari ini tidak mandi.
Walaupun sudah malam, ternyata masih ada lagi yang
menjenguk ibuku. Dua orang laki – laki memakai jaket kulit hitam. Sempat kukira
mereka polisi. Aku tidak kenal mereka. Hanya ibu dan bapakku yang mengenalnya.
Jadi aku memilih untuk keluar ruangan membiarkan ibu bapakku berbincang dengan
mereka.
Setelah mereka pergi aku mencoba untuk tidur di
ranjang yang kosong lagi. Aku bersyukur ranjang ini tak ada pasiennya, jika ada
pasiennya mungkin aku harus tidur di lantai. Tapi kejadiannya sama seperti
kemarin. Aku tidak bisa tidur, mungkin kali ini karena ibuku mengeluarkan suara
saat bernapas, ia kesulitan bernapas tapi tidak mau memasang oksigennya. Matanya
tertutup. Suaranya lama kelamaan
seperti suara merintih. Aku jadi tak tahan.
Tepat pada tengah malam, ada pasien barudi ruangan
ini. Perawat menutup tirai agar kami tak bisa melihat.
Tapi aku masih bisa mengintip. Keadaan
wanita itu sudah parah. Aku sempat
berbicara pada salah satu keluarganya itu. Kata keluarganya ia menderita sesak
napas sama seperti ibuku. Tapi kurasa ia lebih parah daripada ibuku.
Keluarganya cukup banyak. Ada salah satu anggota keluarganya yang menangis
terus. Pasien itu membuka matanya tapi pandangannya kosong. Perawat berusaha
untuk membuatnya sadar dengan memanggil – manggil namanya. Tapi tetap saja
pandangannya kosong, bahkan konsisten memandangi satu titik tanpa berkedip. Orang
yang tadi menangis menambah volume suara tangisannya. Yah, dugaanku benar. Ia
akan meninggal. Dan itu terjadi, meninggal dengan mata terbuka. Setidaknya itu
yang kulihat dengan mataku sendiri. Kejadiannya cepat sekali. Ia masuk rumah
sakit untuk meninggal. Kini suara tangisan makin bertambah, mungkin semua
anggota keluarganya menangis. Malam ini menjadi malam yang pilu. Aku yakin
seratus persen pasien di kamar sebelah atau di depan kamar ini bangun semua dan
mengetahui kejadian ini. Aku, ibuku, dan bapakku, duduk berdekatan. Pipi kananku
bersentuhan dengan pipi kiri ibuku. Terasa dingin dan lengket. Karena kami sama
– sama belum mandi. “Untung kita tidak seperti itu, ya,” katanya. Pipi kami
masih bersentuhan. Aku memikirkan kata yang diucapkannya tadi. Aku tidak bisa
memberi jawaban.Tapi aku tahu ia tersenyum walaupun aku tak bisa melihat
wajahnya dengan posisi seperti ini. Aku pikir mungkin burung gagak tadi untuk
yang ini. Setelah kejadian itu, pasien tadi dibawa ke kamar jenazah. Dan
seluruh keluarganya mengikutinya.
Aku
sebenarnya ingin tidur. Tapi sama seperti tadi. Ibuku mengeluarkan suara
rintihannya lagi. Mungkin sekarang sudah jam 1 pagi. Aku teringat pada kakak –
kakakku yang janjian untuk salat tahajud. Mungkin mereka sekarang sedang
bersiap – siap untuk salat. Aku juga tidak mau tidak salat, jadi aku langsung pergi
ke masjid rumah sakit ini sendirian. Jarak masjid dari kamar ibuku lumayan
jauh, tapi aku sama sekali tidak takut. Bapakku tidak tahu aku ke sini. Karena
aku juga tak mau ia tahu. Saat aku sampai di masjid, aku kecewa karena
pintumasjid terkunci dan lampunya mati. tapi keinginanku untuk salat tidak
hilang. Angin malam menusuk tubuhku yang basah kena air wudu. Aku buru – buru
mengenakan mukena yang ada di laci luar
masjid lalu salat di teras masjid. Yang kupikirkan sekarang adalah apapun akan
kulakukan demi ibuku walaupun harus kedinginan di tempat gelap dan sepi. Tepat
usai salat bapakku berhasil menemukanku. Sungguh aku tidak berharap itu
terjadi.
Aku
tidak sadar sudah pagi, ibuku masih mengeluarkan suara rintihnya. Aku tak tahu
jam berapa sekarang, mungkin sekitar jam 6 pagi. Aku melihat sepertinya ibu makin
parah. Bapakku menyuruhku memanggil perawat. Setelah aku memanggilnya, perawat
hanya mengambil darah ibuku dan mengganti infus ibuku. Lalu ia berkata,”Obatnya
akan bekerja lewat infus.”
Beberapa
menit kedepan pun kejadian masih sama. Mungkin suara rintihannya makin kecang.
Bapakku entah pergi kemana, aku sudah mencari – cari ke beberapa tempat di
rumah sakit ini tapi tetap tidak ada. Mungkin ia keluar rumah sakit. Tapi
kenapa sekarang? Aku bingung, jadi aku memanggil
perawat lagi. Setelah mereka kupanggil,tak ada perawat yang datang. Kenapa
mereka malas sekali untuk menghampiri pasiennya yang sedang dalam keadaan
seperti ini? Aku mendengarkan setiap suara yang dikeluarkan ibuku, dari
rintihan hingga erangan yang kencang. Aku melihat orang – orang mulai mengintip
dari jendela, aku tidak terima mereka mengintip, jadi aku menutup rapat jendela
dengan tirai.
Jika
kau menjadi aku. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Diam saja dan terus
memandangi ibumu yang teriak kesakitan? Anak macam apa kau ini! Apa kau akan
keluar dari ruangan itu membiarkan ibumu kesakitan? Betapa durhakanya kau ini!
Aku tidak melakukan keduanya. Yang kulakukan adalah menangis karena tak tahan
mendengarnya seperti itu dan berusaha menenangkan ibuku. Tapi itu percuma jika
akunya saja juga tidak tenang. Jadi yang banyak kulakukan adalah memeluknya. Walaupun
ia setengah sadar. Berharap ini akan membuatnya tenang. Yang jelas di sini aku
panik. Ini berlangsung berapa lama? Sangat lama hingga aku lelah menangis. Dan
ibuku juga lelah karena kesakitan, aku tidak mengerti bagian mana yang sakit
tapi menurutku itu berpengaruh ke perut juga. Sungguh, aku tidak mengerti.
Mungkin
sudah ada satu jam keadaan ini berlangsung. Aku tidak tahan. Rasanya kepalaku mau
pecah. Kalau bisa seluruh tubuhku saja sekalian.
Akhirnya
bapakku datang, ia membawa air yang sudah dibacakan doa oleh orang banyak di
masjid dekat rumah. Aku tidak menyangka. Ibuku berangsur – angsur mulai tenang
sehabis meminumnya.
Aku
sangat lega. Dan lelah benar – benar sudah menghantamku. Aku diberitahu sebuah
bacaan doa singkat oleh bapakku untuk dibacakan ke ibuku. Aku mencoba untuk
menghafalnya. Dan terus membacakannya. Itu bisa membuat ibu lebih tenang. Pak, kenapa tidak dari tadi! Pikirku.
Bapakku
kini duduk di bangku samping ranjang ibu, aku duduk lesehan di belakang
bapakku. Karena aku duduk bersandar di tembok dan adanya lelah yang bertubi –
tubi, aku ketiduran. Sudah dua hari aku tidak tidur. Dan ini tidak membuatku
peduli akan posisi tidurku yang sedang duduk.
Ketika
terbangun, dua kakak perempuanku sudah ada di depanku, duduk di samping ranjang
ibu dengan posisi membelakangiku. Mereka membaca doa berupa surat – surat pendek
dengan berbisik. Kakak pertamaku sadar aku telah bangun, lalu ia menyuruhku
untuk mandi dan menyodorkanku sekantung plastik berisi pakaianku yang kemarin
kupesan.
Aku
sudah tak sabar untuk mandi, karena sudah dua hari aku tidak mandi. Tapi aku
rasa aku tidak mau untuk meninggalkan ibu. Entah kenapa takut ketinggalan setiap
kejadian yang akan terjadi di sini. Tapi badanku sudah lengket minta untuk
dibersihkan.
Saat
aku di kamar mandi, aku masih memikirkan apa yang akan terjadi di sana tanpa
adanya aku. Tapi pikiran mengenai betapa lelahnya aku menjaga ibu, menjadikan
aku bisa membiarkan kakak – kakakku bergantian denganku untuk menjaga ibu.
Lagipula, mereka tidak melihat apa yang kulihat tadi. Ibu teriak – teriak
kesakitan dan bapak yang pergi entah kemana. Itu belum aku ceritakan pada
mereka karena aku masih terlalu lelah. Kalaupun aku sudah tidak lelah aku juga
akan berpikir - pikir lagi untuk menceritakannya.
Ketika
aku sedang membalutkan badanku dengan sabun. Terdengar suara tangisan keras,
bukan dari satu orang tapi lebih. Dan aku mengenal suara itu. Itu seperti suara
kakak – kakakku. Aku tau kali ini percuma untuk berpikif positif, pasien mana
lagi yang berisik karena kesakitan dan keluarga mana yang selalu ribut mondar –
mandir memanggil perawat. Hanya keluargaku. Orang yang menangis itu pasti
keluargaku.
Di
situ aku sudah pasrah. Dan mempercepat mandiku. Aku tidak berlari saat menuju
ke ruangan ibuku, walaupun aku sudah melihat kakak – kakakku berpelukan sambil
menangis di luar ruangan dari kejauhan. Aku berjalan memutari mereka lalu
menyelinap masuk ke ruangan ibuku. Pintunya dibiarkan terbuka. Aku melihat
dokter sungguhan berpakaian jas putih dan beberapa perawat wanita di sampingnya,
aku belum pernah melihat dokter yang mengobati ibuku sebelumnya, yang sering
kulihat hanyalah perawat. Aku masuk tanpa diketahui mereka, tujuanku masuk
bukan untuk melihat ibuku tapi untuk menaruh bajuku yang kotor ke laci di
samping ranjang. Aku melihat, monitor pendeteksi denyut jantung yang
mengeluarkan suara bip – bip dengan
berisik. Aku sungguh tak tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin berusaha untuk
mengembalikan jantung ibuku bekerja. Karena takut ketahuan oleh mereka, aku
langsung keluar ruangan dan memandangi dua perempuan yang masih berpelukan
sambil menangis tadi.
Kedua
kakakku. Kulihat wajah kakak pertamaku, seperti masih berpikir positif bahwa ibu
hanyalah kritis. Kakak keduaku, ia terlihat lemah. Dokter keluar, dan aku tidak
memperhatikannya, mungkin ia mengatakan sesuatu, tapi aku tidak peduli, aku
hanya melihat ibuku dari luar pintu, matanya tertutup, ia seperti tidur biasa.
Setelah itu kakak keduaku malah memelukku sambil menangis kali ini dengan
histeris. Aku tidak bisa tidak menangis, walaupun aku lelah untuk menangis tapi
kali ini aku menangis untuk alasan yang jelas. Aku membalas pelukan kakakku
sambil melihat ibuku yang tubuhnya sedang ditutupi kain putih oleh salah satu
perawat.
Kami
menangis bersama. Membiarkan pasien lain memandangi kami. Keluarga pasien yang
masih di dalam ruangan, mengintip dari balik jendela. Aku tahu mereka merasa
kasihan pada kami. Tapi maaf, aku sama sekali tidak butuh itu.
Kami
mulai masuk ruangan, walaupun masih ada perawat yang masih melepasi infus dan
segala kabel tadi yang dipakaikan ke ibuku.Aku memandangi monitor kecil pendeteksi
denyut jantung. Berpikir benda itu bisa saja sedang rusak. Kulihat lagi ibuku,
yang kain putihnya sudah dibuka lagi oleh bapakku, sungguh aku tidak
memerhatikan dengan jelas, aku tak tahu bapakku muncul dari mana. Dengan keadaan seperti ini memang sulit untuk fokus.
Aku sudah berhenti menangis dari tadi. Aku tahu ini lebih baik untuk ibu
setelah mengingat beberapa jam sebelumnya. Aku jadi heran, kenapa kulihat ibuku
seperti ia sedang tidur biasa. Kulihat perutnya, naik
turun seperti aku sedang memeluknya saat tidur waktuku kecil. Dan aku masih
tidak yakin kalau aku berimajinasi.
Sebenarnya
yang lebih kasihan adalah kakak ketigaku, satu – satunya anak laki – laki. Ia
belum mengetahui hal ini. Ia sedang
di sekolah. Sementara aku bolos. Kakakpertamaku mulai sibuk menelpon, menyuruh temannya menjemput
kakaklaki – lakiku.
Aku mulai berkeliling rumah sakit, mulai berani masuk ke beberapa koridor,
melewati masjid, hingga ke taman, aku melihat bunga yang mekar di sana. Wahai bunga, tahukah kau kalau aku sedang
sedih? Pikirku. Aku takut jadi gila. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku kembali ke ruangan ibuku. Ketika aku masuk ibuku
tertutup kain putih lagi dan sudah dipindah ke ranjang lain yang sekarang didorong oleh dua perawat untuk dibawa ke kamar
jenazah. Keluargaku disuruh untuk mengikutinya.
Aku duduk diruang tunggu. Bersama kakak keduaku dan
saudara – saudaraku yang sudah datang, mungkin karena di telpon kakakku tadi.
Kemana dia sekarang? Mungkin sedang mengurus administrsi. Bapakku mungkin
sedang mengurus urusan lain. Aku diam, masih sesenggukan akibat tangis tadi.
Merasa panas dingin. Dan ingin istirahat.
Setengah jam mungkin aku menunggu. Kakaklaki – lakiku
datang masih memakai seragam SMAnya. Aku tahu ia sudah menangis, lalu ia duduk di sampingku. Beberapa menit
kemudian ia berteriak, “Kenapa tidak bilang dari tadi?”tangisnya meledak lagi.
Lalu ia mulai menendang – nendang tembok dan berontak.
Kakak keduaku menenangkannya atau lebih tepatnya
mengomelinya untuk tenang. Aku diam
menatapnya yang mulai histeris menangis. Sementara aku menahan tangis. Aku tahu
kau berantakan setelah melihat ini. Kau tak tahu apa – apa.
Kami semua berantakan. Tapi kurasa aku lebih
berantakan, karena aku tahu setiap detik dan menit kondisi ibu beberapa hari
belakangan ini. Kami merasa ada bom yang menyerang kami. Yang
membuat posisi kami amburadul. Kami tak
percaya ini adalah nyata. Apa yang harus kami lakukan jika
tanpa ada ibu? Menjadi kakak adik yang makin sayang
satu sama lain? Atau bahkan kakak adik yang tak peduli satu sama lain?
Aku tahu posisi kita berbeda. Kedua kakak perempuanku
sempat melakukan kegiatan yang seperti biasa mereka
lakukan. Kakak laki – lakiku ada di sekolah. Sementara aku ada di rumah sakit
melihat segalanya. Aku melihatnya. Segalanya. Apapun yang ibu lakukan aku tahu.
Apapun yang ibu katakan aku tahu. Bahkan teriakannya pun aku mendengarnya,
itu sudah seperti lantunan lagu yang pilu.
Semua pikiran negatif itu sudah terjadi. Sekarang kau harus memikrkan apa lagi?
Pikirku. Harapan? Agar ibuku bisa kembali lagi? Oh, atau mungkin semua
harapanku tentang cita – citaku juga ikut musnah? Bahwa aku tidak bisa melihat
ibuku tersenyum senang karena aku memakai seragam
wisuda beserta toganya saat aku lulus kuliah nanti. Bahwa aku tidak bisa
melihat wajah senang ibuku ketika aku menikah nanti. Atau apapun nanti di masa
depan yang seharusnya aku melihat ibuku bahagia karena aku berhasil melakukan
sesuatu. Itu sudah tidak mungkin terjadi. Mustahil.
Aku berpikir, kenapa harus aku yang mengalami ini? Apa
aku punya kesalahan besar? Kalau itu benar, beritahu aku siapa yang sudah aku
lukai, dan akan kucari dia lalu meminta maaf padanya. Kenapa harus aku? Kenapa
tidak mereka saja yang selalu durhaka pada ibunya? Yang selalu membentak ibunya.Yang
selalu melukai hati ibunya.
Hari ini hari Senin, 19 November 2012. Tanggal dengan
sederet kejadian yang berkesan selama hidupku. Aku berharap bisa melupakan
tanggal itu. Tapi bukan melupakan kejadiannya.
Sekarang aku sama seperti
mereka, seperti anak – anak yatim atau
piatu. Dulu aku pernah berpikir bagaimana jika menjadi seperti mereka. Tapi
sekarang aku tak perlu berpikir lagi karena aku sudah merasakannya.Dikasihani orang dengan memberi kami santunan.
Sementara mereka diam – diam berharap doa dari kami. Tapi sungguh aku ingin
kalian tahu. Aku tak butuh belas kasih dari kalian.
Comments
Post a Comment