Skip to main content

Diah Widyarini, Cerpen "19 NOVEMBER 2012"

Nama               : Diah Widyarini
Kelas               : X-IIS3
Pelajaran          : B. Indonesia
19 NOVEMBER 2012
Ketika pulang sekolah aku diberitahu kakakku bahwa ibuku dirawat di rumah sakit. Sebelumnya aku tahu bahwa kakakku akan membawa ibu ke rumah sakit tapi aku tidak mengira akan dirawat. Tapi aku tidak diperbolehkan untuk ke rumah sakit dulu karena aku harus menjaga rumah dan tidak bisa bolos sekolah. Setelah beberapa hari ibuku dirawat, kami sekeluarga ke rumah sakit setelah aku sudah pulang sekolah.
Saat sampai, aku melihat ibuku tidak begitu lemas, hanya seperti orang baru bangun tidur. Di ruangan ibuku dirawat ada empat ranjang dan hanya 2 pasien yang tinggal. Ibuku dan satu wanita muda, ranjangnya berhadapan dengan ranjang ibuku yang tirainya selalu tertutup. Aku bersama kakak - kakakku bergantian untuk mencium tangannya, tapi saat salah satu kakakku memeluknya sehabis cium tangan, aku ikut melakukannya juga. Saat aku memeluknya, aku mencium bau badan orang sakit, kepalaku berada di perutnya, ada perasaan lain yang muncul, semacam rasa takut kehilangan, dan itu memicu air mataku keluar. Apa yang sebenarnya aku pikirkan?Pikirku. Sampai aku tersadar  kedua kakakku menunggu gilirannya untuk mencium tangan, jadi kulepaskan saja pelukanku dan berpindah ke ranjang sebelahnya yang tidak disinggahi pasien. Aku terdiam, menenangkan diriku sendiri, kubiarkan kakakku mengobrol dengan ibu, aku mengingat – ingat lagi apa yang sedang kupikirkan tadi saat menangis. Ibu hanya sakit, dan agar cepat sembuh ia harus dirawat.Mengapa aku menangis? Memalukan saja, Pikirku.
Setelah itu,keadaan berlangsung biasa saja, bercanda, hingga makan siang bersama, lalu pulang saat sore hari. Mulai dari sekarang aku berusaha untuk tidak bersikap berlebihan seperti menangis tadi.
Keesokan harinya setelah pulang sekolah aku diberitahu bahwa aku harus menginap di rumah sakit untuk menemani ibuku bersama bapakku. Aku tidak mau menginap di sana. Tapi itu tidak kukatakan. Aku rasa aku cukup menjenguknya saja. Malam ini malam minggu, aku tidak mau menghabiskan waktuku di rumah sakit. Kata salah satu kakakku,  ibu selalu menanyakan aku dan ia mau aku menginap di sana. Aku berpikir, ibuku mempunyai empat orang anak tapi hanya aku yang diinginkan.Kenapa? Apa ia tidak berpikir untuk memberikan kesempatan anaknya untuk bersenang – senang di rumah, bukan di rumah sakit. Tapi semakin aku berpikir, pikiranku mengarah ke pikiran negatif. Ini seperti permintaan seseorang yang harus dilakukan. Takut ini adalah permintaan terakhir dari seseorang tersebut. Baiklah, aku tahu kini aku berlebihan lagi. Jadi lebih baik aku bersiap – siap untuk ke rumah sakit.
Saat di sana, aku sangat merasa bosan. Aku hanya banyak memakan buah – buahan yang kakakku beli untuk ibuku. Tapi kau tahu, kan, kalau orang sakit biasanya tidak nafsu makan. Aku merasa kepanasan karena tidak ada satupun kipas di ruangan ini. Tidak ada hiburan di sini, seperti TV atau lagu – lagu yang bisa didengar. Aku melihat pasien yang satu kamar dengan ibuku, ia mempunyai handphone yang bisa untuk menyetel TV. Jujur aku iri padanya. Mungkin aku takkan kebosanan seperti ini jika aku mempunyainya juga. Ketika malam aku mencoba tidur di ranjang sebelah ibuku yang kosong tadi. Tapi percuma, aku tidak bisa tidur.
Tanpa sadar pagi sudah datang. Di hari minggu ini, kuakui aku sangat bingung, karena banyak orang yang menjenguk, dan ada beberapa dari mereka yang tidak kukenal. Kakak –kakakku datang saat agak siang, mereka membawa makanan untuk dimakan bersama, aku lega saat mereka datang, aku jadi punya teman bicara. Mereka yang banyak bertanya pada ibu, sementara aku banyak makan. Saat siang mereka pulang. Dan aku berusaha untuk menjaga ibuku lebih maksimal. Seperti membantunya untuk buang air kecil, atau menyuapinya makan. Tetangga mulai berdatangan untuk menjenguk, aku bingung, karena mereka datang saat ibu sedang tidur. Salah satu tetangga, yang kukenal, menyuruhku untuk memakaikan alat bantu bernapasnya ibuku. Aku ingin melakukannya. Tapi dengan setengah sadar, ia menjauhkan alat itu dan berkata, “Kalau pakai itu terus, mau kapan sembuhnya?” lalu ia tertidur lagi.
Setelah mereka pergi. Kakak – kakakku datang. Seperti biasa, mereka banyak mengajak ngobrol ibu. Saat adzan magrib usai, ada suara burung gagak kencang sekali dan berulang – ulang tepat di luar kamar ini. Kami semua terdiam. Saling menatap. Aku memandang wajah kakakpertamaku, terlihat memikirkan sesuatu yang buruk dan berusaha untuk mengenyahkannya. Lalu tak lama kemudian mereka pulang. Sebelum mereka pulang aku meminta pesan agar mereka membawa bajuku untuk ganti besok. Karena aku sudah dua hari ini tidak mandi.
Walaupun sudah malam, ternyata masih ada lagi yang menjenguk ibuku. Dua orang laki – laki memakai jaket kulit hitam. Sempat kukira mereka polisi. Aku tidak kenal mereka. Hanya ibu dan bapakku yang mengenalnya. Jadi aku memilih untuk keluar ruangan membiarkan ibu bapakku berbincang dengan mereka.
Setelah mereka pergi aku mencoba untuk tidur di ranjang yang kosong lagi. Aku bersyukur ranjang ini tak ada pasiennya, jika ada pasiennya mungkin aku harus tidur di lantai. Tapi kejadiannya sama seperti kemarin. Aku tidak bisa tidur, mungkin kali ini karena ibuku mengeluarkan suara saat bernapas, ia kesulitan bernapas tapi tidak mau memasang oksigennya. Matanya tertutup. Suaranya lama kelamaan seperti suara merintih. Aku jadi tak tahan.
Tepat pada tengah malam, ada pasien barudi ruangan ini. Perawat menutup tirai agar kami tak bisa melihat. Tapi aku masih bisa mengintip. Keadaan wanita itu sudah parah. Aku sempat berbicara pada salah satu keluarganya itu. Kata keluarganya ia menderita sesak napas sama seperti ibuku. Tapi kurasa ia lebih parah daripada ibuku. Keluarganya cukup banyak. Ada salah satu anggota keluarganya yang menangis terus. Pasien itu membuka matanya tapi pandangannya kosong. Perawat berusaha untuk membuatnya sadar dengan memanggil – manggil namanya. Tapi tetap saja pandangannya kosong, bahkan konsisten memandangi satu titik tanpa berkedip. Orang yang tadi menangis menambah volume suara tangisannya. Yah, dugaanku benar. Ia akan meninggal. Dan itu terjadi, meninggal dengan mata terbuka. Setidaknya itu yang kulihat dengan mataku sendiri. Kejadiannya cepat sekali. Ia masuk rumah sakit untuk meninggal. Kini suara tangisan makin bertambah, mungkin semua anggota keluarganya menangis. Malam ini menjadi malam yang pilu. Aku yakin seratus persen pasien di kamar sebelah atau di depan kamar ini bangun semua dan mengetahui kejadian ini. Aku, ibuku, dan bapakku, duduk berdekatan. Pipi kananku bersentuhan dengan pipi kiri ibuku. Terasa dingin dan lengket. Karena kami sama – sama belum mandi. “Untung kita tidak seperti itu, ya,” katanya. Pipi kami masih bersentuhan. Aku memikirkan kata yang diucapkannya tadi. Aku tidak bisa memberi jawaban.Tapi aku tahu ia tersenyum walaupun aku tak bisa melihat wajahnya dengan posisi seperti ini. Aku pikir mungkin burung gagak tadi untuk yang ini. Setelah kejadian itu, pasien tadi dibawa ke kamar jenazah. Dan seluruh keluarganya mengikutinya.
Aku sebenarnya ingin tidur. Tapi sama seperti tadi. Ibuku mengeluarkan suara rintihannya lagi. Mungkin sekarang sudah jam 1 pagi. Aku teringat pada kakak – kakakku yang janjian untuk salat tahajud. Mungkin mereka sekarang sedang bersiap – siap untuk salat. Aku juga tidak mau tidak salat, jadi aku langsung pergi ke masjid rumah sakit ini sendirian. Jarak masjid dari kamar ibuku lumayan jauh, tapi aku sama sekali tidak takut. Bapakku tidak tahu aku ke sini. Karena aku juga tak mau ia tahu. Saat aku sampai di masjid, aku kecewa karena pintumasjid terkunci dan lampunya mati. tapi keinginanku untuk salat tidak hilang. Angin malam menusuk tubuhku yang basah kena air wudu. Aku buru – buru mengenakan mukena yang ada  di laci luar masjid lalu salat di teras masjid. Yang kupikirkan sekarang adalah apapun akan kulakukan demi ibuku walaupun harus kedinginan di tempat gelap dan sepi. Tepat usai salat bapakku berhasil menemukanku. Sungguh aku tidak berharap itu terjadi.
Aku tidak sadar sudah pagi, ibuku masih mengeluarkan suara rintihnya. Aku tak tahu jam berapa sekarang, mungkin sekitar jam 6 pagi. Aku melihat sepertinya ibu makin parah. Bapakku menyuruhku memanggil perawat. Setelah aku memanggilnya, perawat hanya mengambil darah ibuku dan mengganti infus ibuku. Lalu ia berkata,”Obatnya akan bekerja lewat infus.”
Beberapa menit kedepan pun kejadian masih sama. Mungkin suara rintihannya makin kecang. Bapakku entah pergi kemana, aku sudah mencari – cari ke beberapa tempat di rumah sakit ini tapi tetap tidak ada. Mungkin ia keluar rumah sakit. Tapi kenapa sekarang?  Aku bingung, jadi aku memanggil perawat lagi. Setelah mereka kupanggil,tak ada perawat yang datang. Kenapa mereka malas sekali untuk menghampiri pasiennya yang sedang dalam keadaan seperti ini? Aku mendengarkan setiap suara yang dikeluarkan ibuku, dari rintihan hingga erangan yang kencang. Aku melihat orang – orang mulai mengintip dari jendela, aku tidak terima mereka mengintip, jadi aku menutup rapat jendela dengan tirai.
Jika kau menjadi aku. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Diam saja dan terus memandangi ibumu yang teriak kesakitan? Anak macam apa kau ini! Apa kau akan keluar dari ruangan itu membiarkan ibumu kesakitan? Betapa durhakanya kau ini! Aku tidak melakukan keduanya. Yang kulakukan adalah menangis karena tak tahan mendengarnya seperti itu dan berusaha menenangkan ibuku. Tapi itu percuma jika akunya saja juga tidak tenang. Jadi yang banyak kulakukan adalah memeluknya. Walaupun ia setengah sadar. Berharap ini akan membuatnya tenang. Yang jelas di sini aku panik. Ini berlangsung berapa lama? Sangat lama hingga aku lelah menangis. Dan ibuku juga lelah karena kesakitan, aku tidak mengerti bagian mana yang sakit tapi menurutku itu berpengaruh ke perut juga. Sungguh, aku tidak mengerti.
Mungkin sudah ada satu jam keadaan ini berlangsung. Aku tidak tahan. Rasanya kepalaku mau pecah. Kalau bisa seluruh tubuhku saja sekalian.
Akhirnya bapakku datang, ia membawa air yang sudah dibacakan doa oleh orang banyak di masjid dekat rumah. Aku tidak menyangka. Ibuku berangsur – angsur mulai tenang sehabis meminumnya.
Aku sangat lega. Dan lelah benar – benar sudah menghantamku. Aku diberitahu sebuah bacaan doa singkat oleh bapakku untuk dibacakan ke ibuku. Aku mencoba untuk menghafalnya. Dan terus membacakannya. Itu bisa membuat ibu lebih tenang. Pak, kenapa tidak dari tadi! Pikirku.
Bapakku kini duduk di bangku samping ranjang ibu, aku duduk lesehan di belakang bapakku. Karena aku duduk bersandar di tembok dan adanya lelah yang bertubi – tubi, aku ketiduran. Sudah dua hari aku tidak tidur. Dan ini tidak membuatku peduli akan posisi tidurku yang sedang duduk.
Ketika terbangun, dua kakak perempuanku sudah ada di depanku, duduk di samping ranjang ibu dengan posisi membelakangiku. Mereka membaca doa berupa surat – surat pendek dengan berbisik. Kakak pertamaku sadar aku telah bangun, lalu ia menyuruhku untuk mandi dan menyodorkanku sekantung plastik berisi pakaianku yang kemarin kupesan.
Aku sudah tak sabar untuk mandi, karena sudah dua hari aku tidak mandi. Tapi aku rasa aku tidak mau untuk meninggalkan ibu. Entah kenapa takut ketinggalan setiap kejadian yang akan terjadi di sini. Tapi badanku sudah lengket minta untuk dibersihkan.
Saat aku di kamar mandi, aku masih memikirkan apa yang akan terjadi di sana tanpa adanya aku. Tapi pikiran mengenai betapa lelahnya aku menjaga ibu, menjadikan aku bisa membiarkan kakak – kakakku bergantian denganku untuk menjaga ibu. Lagipula, mereka tidak melihat apa yang kulihat tadi. Ibu teriak – teriak kesakitan dan bapak yang pergi entah kemana. Itu belum aku ceritakan pada mereka karena aku masih terlalu lelah. Kalaupun aku sudah tidak lelah aku juga akan berpikir - pikir lagi untuk menceritakannya.
Ketika aku sedang membalutkan badanku dengan sabun. Terdengar suara tangisan keras, bukan dari satu orang tapi lebih. Dan aku mengenal suara itu. Itu seperti suara kakak – kakakku. Aku tau kali ini percuma untuk berpikif positif, pasien mana lagi yang berisik karena kesakitan dan keluarga mana yang selalu ribut mondar – mandir memanggil perawat. Hanya keluargaku. Orang yang menangis itu pasti keluargaku.
Di situ aku sudah pasrah. Dan mempercepat mandiku. Aku tidak berlari saat menuju ke ruangan ibuku, walaupun aku sudah melihat kakak – kakakku berpelukan sambil menangis di luar ruangan dari kejauhan. Aku berjalan memutari mereka lalu menyelinap masuk ke ruangan ibuku. Pintunya dibiarkan terbuka. Aku melihat dokter sungguhan berpakaian jas putih dan beberapa perawat wanita di sampingnya, aku belum pernah melihat dokter yang mengobati ibuku sebelumnya, yang sering kulihat hanyalah perawat. Aku masuk tanpa diketahui mereka, tujuanku masuk bukan untuk melihat ibuku tapi untuk menaruh bajuku yang kotor ke laci di samping ranjang. Aku melihat, monitor pendeteksi denyut jantung yang mengeluarkan suara bip – bip dengan berisik. Aku sungguh tak tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin berusaha untuk mengembalikan jantung ibuku bekerja. Karena takut ketahuan oleh mereka, aku langsung keluar ruangan dan memandangi dua perempuan yang masih berpelukan sambil menangis tadi.
Kedua kakakku. Kulihat wajah kakak pertamaku, seperti masih berpikir positif bahwa ibu hanyalah kritis. Kakak keduaku, ia terlihat lemah. Dokter keluar, dan aku tidak memperhatikannya, mungkin ia mengatakan sesuatu, tapi aku tidak peduli, aku hanya melihat ibuku dari luar pintu, matanya tertutup, ia seperti tidur biasa. Setelah itu kakak keduaku malah memelukku sambil menangis kali ini dengan histeris. Aku tidak bisa tidak menangis, walaupun aku lelah untuk menangis tapi kali ini aku menangis untuk alasan yang jelas. Aku membalas pelukan kakakku sambil melihat ibuku yang tubuhnya sedang ditutupi kain putih oleh salah satu perawat.
Kami menangis bersama. Membiarkan pasien lain memandangi kami. Keluarga pasien yang masih di dalam ruangan, mengintip dari balik jendela. Aku tahu mereka merasa kasihan pada kami. Tapi maaf, aku sama sekali tidak butuh itu.
Kami mulai masuk ruangan, walaupun masih ada perawat yang masih melepasi infus dan segala kabel tadi yang dipakaikan ke ibuku.Aku memandangi monitor kecil pendeteksi denyut jantung. Berpikir benda itu bisa saja sedang rusak. Kulihat lagi ibuku, yang kain putihnya sudah dibuka lagi oleh bapakku, sungguh aku tidak memerhatikan dengan jelas, aku tak tahu bapakku muncul dari mana. Dengan keadaan seperti ini memang sulit untuk fokus. Aku sudah berhenti menangis dari tadi. Aku tahu ini lebih baik untuk ibu setelah mengingat beberapa jam sebelumnya. Aku jadi heran, kenapa kulihat ibuku seperti ia sedang tidur biasa. Kulihat perutnya, naik turun seperti aku sedang memeluknya saat tidur waktuku kecil. Dan aku masih tidak yakin kalau aku berimajinasi.
Sebenarnya yang lebih kasihan adalah kakak ketigaku, satu – satunya anak laki – laki. Ia belum mengetahui hal ini. Ia sedang di sekolah. Sementara aku bolos. Kakakpertamaku mulai sibuk menelpon, menyuruh temannya menjemput kakaklaki – lakiku. Aku mulai berkeliling rumah sakit, mulai berani masuk ke beberapa koridor, melewati masjid, hingga ke taman, aku melihat bunga yang mekar di sana. Wahai bunga, tahukah kau kalau aku sedang sedih? Pikirku. Aku takut jadi gila. Apa yang harus kulakukan sekarang?
Aku kembali ke ruangan ibuku. Ketika aku masuk ibuku tertutup kain putih lagi dan sudah dipindah ke ranjang lain yang sekarang didorong oleh dua perawat untuk dibawa ke kamar jenazah. Keluargaku disuruh untuk mengikutinya.
Aku duduk diruang tunggu. Bersama kakak keduaku dan saudara – saudaraku yang sudah datang, mungkin karena di telpon kakakku tadi. Kemana dia sekarang? Mungkin sedang mengurus administrsi. Bapakku mungkin sedang mengurus urusan lain. Aku diam, masih sesenggukan akibat tangis tadi. Merasa panas dingin. Dan ingin istirahat.
Setengah jam mungkin aku menunggu. Kakaklaki – lakiku datang masih memakai seragam SMAnya. Aku tahu ia sudah menangis, lalu ia duduk di sampingku. Beberapa menit kemudian ia berteriak, “Kenapa tidak bilang dari tadi?”tangisnya meledak lagi.
Lalu ia mulai menendang – nendang tembok dan berontak. Kakak keduaku menenangkannya atau lebih tepatnya mengomelinya untuk tenang. Aku diam menatapnya yang mulai histeris menangis. Sementara aku menahan tangis. Aku tahu kau berantakan setelah melihat ini. Kau tak tahu apa – apa.
Kami semua berantakan. Tapi kurasa aku lebih berantakan, karena aku tahu setiap detik dan menit kondisi ibu beberapa hari belakangan ini. Kami merasa ada bom yang menyerang kami. Yang membuat posisi kami amburadul. Kami tak percaya ini adalah nyata. Apa yang harus kami lakukan jika tanpa ada ibu? Menjadi kakak adik yang makin sayang satu sama lain? Atau bahkan kakak adik yang tak peduli satu sama lain?
Aku tahu posisi kita berbeda. Kedua kakak perempuanku sempat melakukan kegiatan yang seperti biasa mereka lakukan. Kakak laki – lakiku ada di sekolah. Sementara aku ada di rumah sakit melihat segalanya. Aku melihatnya. Segalanya. Apapun yang ibu lakukan aku tahu. Apapun yang ibu katakan aku tahu. Bahkan teriakannya pun aku mendengarnya, itu sudah seperti lantunan lagu yang pilu.
Semua pikiran negatif itu sudah terjadi. Sekarang kau harus memikrkan apa lagi? Pikirku. Harapan? Agar ibuku bisa kembali lagi? Oh, atau mungkin semua harapanku tentang cita – citaku juga ikut musnah? Bahwa aku tidak bisa melihat ibuku tersenyum senang karena aku memakai seragam wisuda beserta toganya saat aku lulus kuliah nanti. Bahwa aku tidak bisa melihat wajah senang ibuku ketika aku menikah nanti. Atau apapun nanti di masa depan yang seharusnya aku melihat ibuku bahagia karena aku berhasil melakukan sesuatu. Itu sudah tidak mungkin terjadi. Mustahil.
Aku berpikir, kenapa harus aku yang mengalami ini? Apa aku punya kesalahan besar? Kalau itu benar, beritahu aku siapa yang sudah aku lukai, dan akan kucari dia lalu meminta maaf padanya. Kenapa harus aku? Kenapa tidak mereka saja yang selalu durhaka pada ibunya? Yang selalu membentak ibunya.Yang selalu melukai hati ibunya.
Hari ini hari Senin, 19 November 2012. Tanggal dengan sederet kejadian yang berkesan selama hidupku. Aku berharap bisa melupakan tanggal itu. Tapi bukan melupakan kejadiannya.

Sekarang aku sama seperti mereka, seperti anak – anak yatim atau piatu. Dulu aku pernah berpikir bagaimana jika menjadi seperti mereka. Tapi sekarang aku tak perlu berpikir lagi karena aku sudah merasakannya.Dikasihani orang dengan memberi kami santunan. Sementara mereka diam – diam berharap doa dari kami. Tapi sungguh aku ingin kalian tahu. Aku tak butuh belas kasih dari kalian.

Comments

Popular posts from this blog

Marawis

Marawis  adalah salah satu jenis "band tepuk" dengan  perkusi  sebagai  alat musik  utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian  Timur Tengah  dan  Betawi , dan memiliki unsur ke agamaan  yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Sejarah Marawis Kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari  Yaman . Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan  hajir ( gendang  besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm,  dumbuk  atau (jimbe) (sejenis gendang yang berbentuk seperti  dandang , memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong  kayu  bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan  ...

Kelas 12 IPA 1 Kelompok 3 Ujian Praktik Teater 'Usaha Membawa Nikmat' SMAN 41 Thn 2018

Ujian Praktik Teater 'Usaha Membawa Nikmat' SMAN 41 Thn 2018 TIM PRODUKSI: 1.      ADITYA ANASTA   (PELATIH DIMAS, PENATA MUSIK) 2.      ALIF MUZAKKI        (PETINJU, MUSUH DIMAS) 3.      ALFRIDA NS                        (MC, PENATA PANGGUNG) 4.      ANNISA PY              (LIZA, PENATA RIAS) 5.      DIMAS AW              (PETINJU) 6.      M. SOLEH AMAL    (WASIT, PENATA PANGGUNG) 7.      NOVAL TAUHID     (PELATIH ALIF) 8.      SAFIRA DL        ...

Kelas 12 IPS 1 Ujian Praktek Teater "Pembenahan Wisma Atlet" SMAN 41 Thn 2018

Kelas 12 IPS 1 Ujian Praktek Teater "Pembenahan Wisma Atlet" SMAN 41 Thn 2018 Ujian Praktek SMAN 41 Jakarta Bahasa Indonesia Tahun Ajaran 2017 / 2018 "Pembenahan Wisma Atlet" Oleh Kelompok 3 1.Dicky Andika Nugraha : Wakil Presiden 2. Dwiki Agung Priambodo : Menteri PUPR 3. Desita Dwi Suciyani : Dirjen PUPR dan Direktur Persero 4. Salsabila Mutiara Puspa : Kontraktor PT. Persero 1 5. Friska Steviana : Kontraktor PT. Persero 2 6. Gustiana Putri Maharani : Atlet Volly 7. Nur Ismi Novyanti : Atlet Timnas Volly Indonesia 8. Ega Lusyana : Reporter 9. Syifaus Sakinah : Kameramen Guru Penilai : Muhammad Jarkasih, S.Pd., M.Par. Siwi Marwati, S.Pd. Dra. Nova Linda, M.Pd. Adegan 1 Setelah mendapatkan kabar bahwa Indonsia menjadi salah satu kandidat sebagai Tuan Rumah Asian Games 2018. Pada tanggal 25 Juli 2014, OCA menunjuk Jakarta sebagai Tuan Rumah Asian Games XVIII dengan Palembang. Oleh sebab ...